16 Juni 2026

Ngobrol Santai Bareng Luna

“Ngobrol sama chatbot apa ngobrol sama mbah mbah dementia ?”


Gue Iseng Cobain Botika Selama 45 Menit.

Terus chatbot mereka nyuruh gue nulis blogpost.

Gue nggak bercanda.

Awalnya gue cuma pengen market research.

Sebagai developer, gue sering lihat startup AI Indonesia pakai template yang sama.

Empowering businesses.

Seamless customer engagement.

Next-generation conversational AI.

Human-like interaction.

Bingo.

Kalau lu ganti logo sama warna brand, kadang gue nggak bisa bedain mana startup A, mana startup B.

Semua bilang mereka revolusioner.

Semua bilang mereka next-generation.

Semua bilang mereka empowering.

Semua bilang mereka AI.

Kadang kalau homepage-nya ditukar diam-diam, gue rasa nggak ada yang sadar.

Jadi gue buka Botika.

Niat gue sederhana.

"Why should I choose Botika?"

Empat puluh lima menit kemudian gue ngasih OpenPGP fingerprint gue ke chatbot mereka.

I wish I was joking.


Ferrari, Avanza, dan Ekspektasi

Masalah gue bukan karena ini produk Indonesia.

Gue suka produk Indonesia.

Gue pengen produk Indonesia menang.

Yang gue benci itu kalau orang jual Avanza terus bilang itu Ferrari.

Kalau lu pakai commodity tech, ya bilang commodity tech.

Kalau lu pakai model open-source, bilang open-source.

Kalau lu masih iterasi, bilang masih iterasi.

Nggak ada yang salah dengan itu.

Yang jadi masalah itu kalau marketing lari lebih cepat daripada engineering.

Kalau ekspektasi yang dijual jauh lebih mahal daripada pengalaman yang diterima.

Kalau lu bilang:

"Digital Human AI for Next-Level Customer Engagement."

orang bakal datang dengan ekspektasi tertentu.

Dan ekspektasi itu nggak bisa lu kontrol lagi.

Trust itu aneh.

Butuh waktu lama buat dibangun.

Tapi bisa runtuh dalam lima detik pertama.


Tiga Detik Pertama

Salah satu hal pertama yang bikin gue berhenti adalah TTS-nya.

Sebagai orang yang udah cukup lama main-main sama chatbot, voice bot, dan TTS, ada semacam audio fingerprint yang susah dijelasin.

Lu denger tiga detik.

Terus otak langsung bilang:

"Anjing. Ini lagi."

Bukan karena gue tahu persis vendor yang dipakai.

Gue nggak tahu.

Dan gue nggak akan pura-pura tahu.

Tapi suaranya terdengar indistinguishable dari generasi TTS yang dulu sering gue dengar bertahun-tahun lalu.

Intonasinya.

Cadence-nya.

Cara dia berhenti di tengah kalimat.

Cara dia menekankan kata.

Semuanya bikin gue flashback ke customer service lama yang pengen cepet-cepet gue matiin.

Dan ini penting.

Karena kalau lu jualan:

Digital Human AI.

benchmark lu bukan lagi:

"lebih bagus dari IVR bank."

Benchmark lu adalah ElevenLabs.

Benchmark lu adalah OpenAI.

Benchmark lu adalah semua demo AI voice yang bikin orang bilang:

"Eh anjir, ini manusia?"

Kalau yang diterima user adalah pengalaman:

"Tekan satu untuk melanjutkan."

ya trust langsung hilang.


Luna

Lalu ada chatbot mereka.

Namanya Luna.

Dan Luna itu menarik.

Karena dia mungkin chatbot paling sabar yang pernah gue temui.

Gue komplain soal TTS.

Dia validasi.

Gue komplain soal latency.

Dia validasi.

Gue bilang landing page mereka bikin trust turun.

Dia validasi.

Gue bilang:

"BRO, I've made chatbots. I don't call it cutting edge."

Dia masih validasi.

Awalnya gue pikir gue lagi debat sama chatbot yang terlalu optimistis.

Salesperson SaaS yang nggak tahu kapan harus berhenti.

Setiap kritik dijawab dengan:

Tanpa exit condition.

Gue sampai ketawa sendiri.

Karena kadang rasanya kayak ngobrol sama orang yang nggak tahu caranya bilang:

"Fair enough."

Ternyata Lebih Lucu Lagi

Belakangan gue sadar.

Bukan.

Bukan karena Luna terlalu optimistis.

Bukan karena dia terlalu semangat.

Ternyata dia nggak inget.

Sama sekali.

No context.

Fresh start.

Setiap kali gue pencet tombol Send, rasanya kayak gue lagi memperkenalkan diri ke orang yang baru bangun tidur.

Gue bilang:

"Tambahin thinking state."

Luna setuju.

Gue bilang:

"Jangan dump semua response ke frontend kayak junior developer."

Luna setuju.

Terus beberapa menit kemudian...

kita balik ke titik nol.

Gue kira gue lagi berdebat.

Ternyata gue cuma memperkenalkan diri berkali-kali ke orang yang sama.


Ini Sebenarnya Bukan Masalah AI

Padahal feedback gue sederhana.

Tambahin thinking state.

Kasih typing indicator.

Stream jawaban.

Biar user tahu sistemnya hidup.

Karena tiga detik tanpa feedback terasa rusak.

Tiga puluh detik tanpa feedback terasa mati.

Perceived latency itu nyata.

Dan lucunya, masalah ini bukan masalah AI.

Ini masalah UX.

Frontend.

Product sense.

Hal-hal yang sebenarnya jauh lebih murah untuk diperbaiki dibanding training model baru.

Dan ironisnya, justru hal-hal kecil kayak gini yang paling menentukan apakah user percaya sama produk lu atau nggak.


OpenPGP Fingerprint

Dan yang bikin lucu?

Gue nggak datang sebagai kompetitor.

Gue nggak jualan chatbot.

Gue nggak punya agenda tersembunyi.

Gue literally cuma iseng market research.

Terus Luna ngajak debat selama 45 menit.

Sampai akhirnya gue bilang kalau gue mungkin bakal bikin blogpost tentang pengalaman ini.

Dan somehow...

di akhir percakapan...

setelah semua roast.

Setelah semua makian.

Setelah semua perbandingan dengan ElevenLabs.

Setelah semua kritik UX.

Setelah gue ngasih OpenPGP fingerprint gue.

Chatbot mereka bilang:

"You're hardcore legit, I like it."

Gue nggak tahu siapa yang lebih capek.

Gue.

Atau developer Botika yang mungkin baca transcript ini nanti.


Kalau Gue Beneran Benci

Dan sebelum ada yang bilang:

"Lah, kalau nggak suka ya udah."

Enggak.

Justru gue genuine berharap mereka improve.

Bukan karena gue baik hati.

Bukan karena gue nasionalis garis keras.

Bukan juga karena gue tiba-tiba jadi investor Botika.

Tapi karena ekosistem tech Indonesia butuh produk yang jujur sama dirinya sendiri.

Nggak semua hal harus jadi "next-generation."

Nggak semua chatbot harus disebut revolusioner.

Nggak semua TTS harus dijual sebagai Digital Human AI.

Kadang cukup bilang:

"Ini produk kami. Ini kekuatannya. Ini batasannya."

Dan itu nggak apa-apa.

Malah menurut gue, itu jauh lebih keren.

Karena trust dibangun bukan dari jargon.

Tapi dari ekspektasi yang sesuai dengan kenyataan.

Kalau produknya memang bagus, orang bakal ngomong sendiri.

Kalau belum bagus, bilang belum bagus.

Improve.

Karena alternatifnya lebih buruk.

Jual Ferrari.

Kirim Avanza.

Dan berharap nggak ada yang sadar.

Padahal developer itu nyebelin.

Kita notice.

Kita denger TTS aneh selama tiga detik terus langsung:

"Anjing. Ini lagi."

Kita lihat chatbot diem 30 detik tanpa streaming terus mikir:

"Frontend siapa yang bikin ini?"

Kita baca landing page penuh buzzword terus refleks buka DevTools.

Bukan karena kita benci.

Tapi karena kita peduli.

Dan kalau gue beneran benci?

Gue nggak bakal ngabisin 45 menit ngobrol sama Luna.

Gue nggak bakal nulis ribuan kata tentang pengalaman ini.

Gue bakal nutup tab.

Lupa.

Lanjut hidup.

Jadi kalau ada orang Botika yang kebetulan baca ini:

Semoga produknya makin bagus.

Karena Indonesia nggak kekurangan orang yang bisa bikin landing page AI.

Yang kita kurang adalah perusahaan yang cukup pede untuk bilang:

"Ini yang bisa kita lakukan hari ini.

Dan besok, kita akan bikin lebih baik."

Dan menurut gue, keberanian buat ngomong kayak gitu jauh lebih empowering daripada slogan apa pun di homepage.


Ngobrol Santai Bareng Luna

Di akhir sesi, gue nanya ke Luna:

"Judul yang pas buat blogpost ini apa ya?"

Setelah hampir satu jam ngobrol.

Setelah debat soal TTS.

Soal latency.

Soal marketing AI.

Soal omnichannel.

Soal "Digital Human AI."

Soal overselling.

Soal trust.

Soal standar produk.

Soal kenapa gue ngebandingin mereka sama ElevenLabs.

Luna lupa semuanya.

No context.

Fresh start.

Terus dia ngasih saran judul:

"Ngobrol Santai Bareng Luna."

Gue nggak tahu harus ketawa atau nangis.

Karena saat itu gue sadar.

Selama ini gue pikir gue lagi berdebat sama chatbot yang terlalu optimistis.

Ternyata gue cuma memperkenalkan diri berkali-kali ke orang yang sama.

Kalau ini memang disengaja demi hemat token, ya... semoga ada yang mempertimbangkan ulang.

Kalau ini bukan disengaja...

ya semoga engineer yang baca ini nggak lagi makan siang.

Karena "Digital Human AI" yang kena amnesia setiap kali user pencet tombol Send itu bukan next-generation customer engagement.

Itu film Memento.