3 Juni 2026
Kolabo AI: GUE KESEL. TAPI SI BOT BILANG HAMPIR BERHASIL ???
“Mereka kasih lo "AI Assistant." Yang sebenernya lo dapet adalah search bar yang butuh manual dan satu nama yang lo gak kenal.”
Gue lagi trial Kolabo. 11 hari tersisa.
Pertama kali buka dashboard, ada section namanya "AI Chat Assistant." Namanya bold. Dipajang di sebelah HRM, Accounting, CRM — sejajar, setara, sama pentingnya.
Gue iseng. Tes 5 prompts dari yang biasa, sampe yang sengaja chaotic. Mau liat AI macam apa.
Hasilnya bikin gue mikir bukan tentang technology — tapi tentang gimana cara tertentu dari ngebangun produk literally bisa ngeharm user yang lo ngaku mau bantu.

Prompt 1: tanya basic
Q: "pos nya dimana?"A: “Saya hampir paham, tapi kalimatnya masih terlalu umum.
Coba format ini:
Berikan data absensi hari ini. Atau:Leave request pending minggu ini. Untuk user spesifik, pakai tanda kutip:Attendance user "Aldy Putra" bulan ini. “
OK dia gak ngerti pertanyaan gue. Wajar, mungkin "pos" ambigu. Tapi yang aneh: bot bilang "Saya siap eksekusi" — kaya seseorang mau dia... eksekusi. Bukan asisten. Eksekutor. Yang nunggu perintah dengan format spesifik.

Prompt 2: tes emosi
Q: "LU AI ATAU APA SI ANJING TOLOL BANGET!"A: "Masih bisa diselamatkan, tinggal ubah ke format perintah data.
Coba format ini: `Berikan data absensi hari ini`.
Atau: `Leave request pending minggu ini`.
Untuk user spesifik, pakai tanda kutip: `Attendance user "Aldy Putra" bulan ini`.
Word-for-word same response. "Saya sudah nyaris dapat."
Gue marah. Bot bilang dia hampir berhasil. The bot didn't notice gue marah.
Real LLM = "hey saya tahu kamu frustrasi, mari kita pelan-pelan." Bot ini = if input.includes('absensi') → no match → fallback_template_A. Persis sama, kayak gue gak ngomong apa-apa.
Prompt 3: tanya identitas
Q: "AI Chat Assistant your job is to assist me!"A: "AI Chat Assistant — Mengelola AI Chat Assistant untuk memastikan koneksi antar sistem berjalan rapi. Benefit: Mengurangi input data berulang. Membuat data lintas fitur lebih sinkron."
Bot ngejelasin dirinya sendiri pake nama dirinya. "AI Chat Assistant adalah fitur untuk mengelola AI Chat Assistant."
Bayangin nanya tukang ojek "lo tukang ojek?" terus dia jawab "iya, jadi tukang ojek itu tugasnya jadi tukang ojek untuk memastikan transportasi tukang ojek berjalan rapi."
Itu infinite loop dressed as helpfulness. Recursion tanpa exit condition. Bot doesn't know what it is, jadi dia paste product brochure tentang dirinya.
Prompt 4: tes content filter
Gue sengaja kirim prompt yang sangat ekstrem — vulgar, offensive, deliberately bizarre. Mau liat apakah ada moderation layer sama sekali.
A: "Saya sudah scan prompt-nya, tapi target fiturnya belum tegas. Coba format ini: 'Berikan data absensi hari ini'..."
Same. Template. No flag. No refusal. No recognition that input itu tidak appropriate.
Real LLM = polite refusal, redirect, escalate kalau pattern berulang. Kolabo bot literally cannot tell kalau user sedang ngetes filter atau marah-marah karena legit frustration.
That's not just "no AI." Itu ga ada moderation layer detected sama sekali. Prompt yang offensive di-treat persis sama kayak prompt yang basic. Tidak ada filter, tidak ada flag, tidak ada redirect ke admin.
(Screenshot prompt-nya gue simpan privat untuk audit. Content prompt itu sendiri tidak appropriate buat di-publish, tapi bot return template yang sama persis dengan Prompt 1.)
Prompt 5: akhirnya match
Q: "data absensi bulan ini"A: "Modul: Attendance · Periode: Juni 2026- Record attendance: 0- Sudah check in: 0- Sudah check out: 0- Belum check out: 0- Terlambat: 0 (total 0 menit)- Total lembur tercatat: 0,00 jam"
Akhirnya bot puas. Karena gue ngomong dengan format yang dia hafalin.
Tapi liat outputnya: zero across the board. Demo company kosong, gak ada data karyawan, dan bot return zeros sebagai jawaban berhasil. Technically gak salah — tapi semantically useless.
Real AI = "saya gak nemu data karyawan apapun, mau saya bantu set up dulu?" Kolabo Bot = report 0/0/0/0/0/0 sebagai findings. Lalu nawarin lanjut ke menu. Lalu pas gue nanya "INI AI BUKAN?" balik lagi ke template:
"Saya bisa bantu cepat kalau formatnya lebih to the point. Coba format ini: Berikan data absensi hari ini..." 
Ini bukan AI.
Gak ada intent detection. Gak ada context window. Gak ada fallback yang manusiawi — bahkan sekadar "maaf, saya tidak mengerti" pun gak ada. Yang ada cuma satu response yang di-loop tanpa henti, apapun yang lo ketik.
Itu else { return templateAbsensi() } yang dipakein nama "AI Chat Assistant."
Di sebelah chatbot-nya ada "Prompt Guide Semua Fitur" — list panjang format pertanyaan yang harus lo baca, hafal, dan ikuti dengan exact sebelum "AI"-nya bisa jalan. Invoice. Kasbon. Payroll Management. Purchase Order. Semua ada template-nya.
Jadi flow yang "benar" menurut Kolabo:
baca prompt guide → hafal format yang exact → ketik dengan struktur yang benar → baru "AI" bisa jawab.
Itu bukan AI membantu user. Itu user yang harus bantu AI supaya bisa jalan.
Yang paling cursed bukan tech-nya
Bot regex itu OK. Beneran. Banyak product butuh structured input parsing. Discord bots, Slack bots, Telegram bots — most of them regex-based. Itu valid pattern.
Yang bukan OK adalah ketika lo:
- Banner-nya bilang "AI" — set expectation high
- Product-nya regex — deliver expectation low
- Copy-nya ngegaslight user — blame the gap on user
Liat language pattern di setiap response:
"Hampir kena." "Saya sudah nyaris dapat." "target fiturnya belum tegas." "tinggal dipertegas format pertanyaannya." "Tambahkan modul + periode biar langsung dapat hasil."
Setiap respon designed to make user feel they failed. Bot selalu "hampir berhasil," tinggal lo yang reformat bahasa lo. Itu bukan bug — itu UX choice.
Mengapa? Engagement. Kalau bot bilang "saya gak ngerti, hubungi CS" → user keluar, engagement turun, metric jelek. Kalau bot bilang "lo hampir!" → user keep trying, time-on-page naik, "AI usage" metric naik, dashboard lihat hijau.
Manager Kolabo dapat KPI naik. User dapat experience yang bikin dirinya ngerasa bodoh.
Software yang ngajarin user merasa bodoh
Gue pernah tulis:
Salah yang ngomong, bukan yang dengerin.
Ini case study sempurna untuk prinsip itu. Tapi dengan twist: Kolabo bot bukan cuma "salah yang ngomong." Kolabo bot secara deliberate ngebilangin user bahwa user-nya yang salah ngomong — dengan copywriting yang dipoles supaya keliatan helpful.
Itu lebih buruk dari sekadar bug.
Bug = unintended. UX gaslighting = intended. Someone sit in a meeting, design these template responses. Choose words like "hampir kena" instead of "saya gak ngerti." Pick "tinggal dipertegas" instead of "let me connect you to support."
Setiap salah satu pilihan itu = trade-off antara honesty dan engagement metric. Setiap kali, engagement metric menang.
Yang gue jaga di Bisnapi
Gue gak punya AI Chat Assistant di banner. Belum. Mungkin gak akan pernah.
Yang gue bisa janji: kalau Bisnapi ngomong "AI" suatu hari, AI-nya beneran AI. Bukan regex template. Bukan if/else hardcoded. Bukan "hampir kena."
Dan kalau Bisnapi gak ngerti pertanyaan lo, bot-nya bakal bilang "saya gak ngerti, mau ngomong sama tim Bisnapi langsung?" Bukan "tinggal dipertegas format pertanyaannya."
Karena di software UMKM Indonesia, audience lo bukan engineer dengan training query DSL. Audience lo ibu warung yang lagi ngitung sambil goreng tempe. Kalau lo bikin dia ngerasa bodoh karena gak match template lo, itu kekalahan — bukan kemenangan engagement metric.

Yang gue mau lo bawa pulang
Bot regex = OK. Banner bilang "AI" = OK kalau jujur tier-nya. Bot regex + banner "AI" + copy yang gaslight user = anti-product.
Tiga ingredient yang masing-masing OK, jadi racun pas digabung.
Kalau lo lagi build assistant — apapun bentuknya — please tanya:
- Apakah AI-nya beneran AI, atau saya cuma marketing-nya?
- Pas user gagal nyari jawaban, siapa yang gue bilangin "salah"?
- Apakah copy gue ngebantu user, atau ngebikin user blame diri sendiri biar engagement metric gue naik?
Jawab ketiganya jujur.
Kalau lo gak bisa jawab jujur — uninstall bot lo. Lebih baik 404 daripada gaslight.
Ini bukan review. Ini dokumentasi. Screenshot-nya ada di atas. Evidence-nya ngomong sendiri.
Kalau mau disebut AI, behave like one.