24 Mei 2026
"Born of shock."
“Pertanyaannya bagus. Tapi dia bunuh sendiri dua paragraf sebelum substansinya dimulai.”
Kemarin gue nemu postingan LinkedIn yang bikin dahi gue mengkerut.
Penulisnya: Director, tanpa foto profil. Causes-nya panjang — Economic Empowerment, Human Rights, Social Services. Tipikal akun yang paling vokal soal isu paling gede, dengan jejak digital paling kosong.
Dia nulis dua artikel. Indonesia dan Inggris. Tentang PP ekspor komoditas SDA strategis yang baru diumumkan — sawit, batubara, ferro-alloy, semuanya wajib lewat PT DSI mulai Juni 2026. Isu yang real. Triliunan Rupiah. Timeline mepet.
Gue buka versi Inggrisnya.
Paragraf pertama:
"If my first article was born of shock, this one was born of a deeper review..."
Gue berhenti di situ.
Born of shock
Versi Indonesianya: "lahir dari kekagetan." Frasa yang alami. Ditranslate jadi "born of shock" — itu bukan terjemahan. Itu fotokopi.
Kalimatnya gak salah secara gramatikal. Tapi terasa seperti keluar dari mesin, bukan dari kepala manusia yang pernah berpikir dalam bahasa Inggris. Kaku dengan cara yang sangat spesifik — cara yang terjadi kalau seseorang nulis dalam satu bahasa, nyerahin ke Google Translate atau prompt AI, dan gak baca ulang hasilnya.
Di postingan lamanya: "I am looking for an investors." Satu artikel buat kata benda jamak. Kesalahan yang gak akan lolos kalau lo pernah sekali aja baca tulisan lo keras-keras.
Dan kemudian — sertifikat. C1 Advanced dari EF SET, tes online gratisan tanpa pengawas. Dipajang di feed. Caption-nya:
"first try this test and not a bad score i supposed."
i supposed.
Yang sebenernya tragis
Ini bukan soal bahasa Inggris yang sempurna. Nulis dalam bahasa Indonesia yang kuat dan jujur — itu jauh lebih bernilai dari artikel bilingual yang satu versinya output mentah dari mesin terjemahan.
Yang tragis: pertanyaan-pertanyaan yang dia raise itu valid secara substantif.
PT DSI berdiri sebagai perusahaan swasta dengan modal Rp24,75 juta — tapi ditugaskan mengelola transaksi ekspor senilai Rp1,1 triliun per tahun. PP-nya diumumkan di Rapat Paripurna DPR 20 Mei, tapi naskah resmi yang bisa diakses publik sampai sekarang belum ada — yang beredar baru draftnya. APBI sendiri ngaku belum pernah diundang mendiskusikan kebijakan ini.
Coba taro angkanya berdampingan.
Modal disetor: Rp24,75 juta. Mandat throughput ekspor: Rp1,1 triliun per tahun. Rasio sekitar 1:44.000.
Reseller pulsa modal Rp50 juta gak akan dipercaya kasir warung buat pegang kas dengan rasio segitu. Bukan analogi — itu struktur permodalan yang sama.
Pertanyaan yang muncul natural dari fakta-fakta itu bukan pertanyaan kecil:
- Siapa pemilik beneficial PT DSI?
- Kenapa modal disetor di angka itu untuk mandate sebesar itu?
- Kenapa stakeholder utama gak diajak konsultasi?
- Kenapa naskah resmi PP belum bisa diakses publik per hari ini?
Itu pertanyaan yang harusnya bikin redaksi ekonomi langsung nelpon biro legal. Yang harusnya trending di linimasa pelaku industri. Yang harusnya maksa DPR ngeluarin klarifikasi.
Tapi enggak. Karena yang ngangkat isu ini di linimasa gue paginya — postingan dengan dua versi bahasa, yang versi Inggrisnya pembukanya "born of shock."
Tapi karena presentasinya careless — translate mentah, grammar hancur, sertifikat gratisan dipajang sebagai kredensial — orang yang harusnya paling credible ngomong soal ini kehilangan kredibilitasnya sebelum pembaca sempat sampai ke substansinya.
Argumen yang bagus mati dua paragraf sebelum isinya dimulai.
Gap yang paling mahal
Gue punya sertifikat bahasa Inggris juga. Resmi, ada pengawas, bukan dari internet. Gue lupa taruh di mana.
Gak pernah gue pajang. Buat apa?
Tunjukkan kerja, bukan kosmetiknya.
Di LinkedIn, personal branding bisa berjalan cukup jauh dengan modal istilah besar. Empowerment. Governance. Legal certainty. Kata-kata yang terasa penting tapi gak butuh bukti kerja apapun untuk diucapkan.
Tapi ada sesuatu yang lucu dari formula ini: semakin gede klaimnya, semakin tipis kertasnya, semakin gampang tembus saat lo baca dua paragraf pertamanya.
Orang yang tau batasannya — dan berkarya dalam batas itu dengan jujur — jauh lebih menarik dari siapapun yang membangun fasad yang runtuh saat disentuh.
Pertanyaan soal PT DSI itu layak dijawab serius. Sayangnya, cara menyajikannya bilang sebaliknya.
Di ruang publik, itu sama aja dengan tidak bersuara.